SCIENCE

Ancilla Theology


Ancilla theology, ilmu untuk agama. Semboyan ini berlaku bagi ilmu pada abad pertengahan (Middle Age) yang ditandai dengan tampilnya para theology di lapangan ilmu pengetahuan. Dalam ilmu kimia dan ilmu pegetahuan fisika lainya, orang Arab telah memperkenalkan tradisi penelitian objektif, sebuah perbaikan penting terhadap tradisi pemikiran spekulatif orang Yunani. Perlu diketahui bahwa setelah orang Romawi, orang Arab adalah satu-satunya bangsa pada abad Pertengahan yang melahirkan ilmu yurisprudensi dan darinya berkembang sebuah sistem yang independent yang disebut fikih. Fikih pada prinsipnya didasarkan atas Al Quran dan Sunnah (hadis), yang disebut ushul (akar, prinsip) dan dipengaruhi oleh sitem Yunani Romawi. Berikut adalah ringkasan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan:

Malik ibn Anas (715-795) menulis al Muwaththa. Ia memuat 1700 hadis hukum, menghimpun sunah-sunah Nabi, membuat rumusan pertama tentang ijma (consensus) masyarakat Madinah dan menjadi kitab hukum mazhab Maliki. Bersama dengan kompedium Zayd ibn Ali (743) merupakan kitab hukum Islam tertua yang pernah ditemukan.

Ibn al Muqaffa (w. 757) menerjemahkan kitab yang berbahasa pahlawi “Khudzaynamah (Buku tentang Para Raja) dengan judul Siyar Muluk al Ajam. Dia juga menulis kitab Al Durrah al Yatimah yang membahas tentang tatanan moral yang paripuna, serta peningkatan kualitas semangat dan perilaku (adab). Semua itu didasarkan terutama pada anekdot, peribahasa dan mutiara Indo Persia.

Muhammad ibn Ishaq dari Madinah meninggal di Baghdad sekitar 767 menulis Sirah Rasul Allah sebuah biografi Nabi.

Musa ibn Uqbah (w. 758.) dan al Waqidi (w. 822) membuat karya Maghazi tentang peperangan dan penaklukan Islam paling awal.

Al Nu’man ibn Tsabit atau Abu Hanifah adalah cucu seorang budak Persia, yang hidup di Kuffah dan Baghdad, dan meninggal pada tahun 767, menjadi ahli hukum pertama dan paling berpengaruh dalam Islam. Ia menekankan prinsip deduksi analogis yang menghasilkan apa yang kita sebut sebagai fiksi hukum. Ia juga menekankan prinsip preferensi (istihsan) yang melepaskan diri dari ikatan analogi untuk mengejar keadilan yang lebih besar.

Muhammad ibn Idris al syafi’I, lahir di Gazza (767) seorang keturunan Quraisy yang belajar pada Malik di Madinah, namun medan utama aktivitasnya adalah Baghdad dan Kairo. Mahzhab Syafi’I mengklaim telah membangun jalan tengah antara mazhab Maliki yang konservatif dengan mazhab Hanifah yang liberal yaitu menerima pemikiran spekulatif dengan catatan tertentu. Dari prinsip ijma’ yang dirumuskan oleh al Syafi’I, komunitas muslim telah melakukan kebijakan teologis yang luar biasa yang memungkinkan mereka menyesuaikan institusi dan keyakinan mereka dengan berbagai situasi yang berbeda-beda di tengah-tengah kehidupan yang selalu berbeda.

Bapak Kimia bangsa Arab adalah Jabir ibn Hayyan (Geber) hidup di Kuffah sekitar 776. Seperti orang Mesir dan Yunani, Jabir percaya pada pendapat bahwa logam biasa seperti seng, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan formula misterius. Jabir menggambarkan secara ilmiah dua operasi utama kimia: kalnikasi dan reduksi kimiawi. Ia memperbaiki berbagai metode penguapan, sublimasi, peleburan dan kristalisasi. Secara umum, Jabir memodifikasi teori Aristotelian tentang unsur pembentuk logam yang tetap menjadi rujukan penting-dengan beberapa perubahan-sampai awal era kimia modern pada abad ke-18.

Ibrahim al Fazari (w. 777) adalah orang Islam pertama yng membuat astrolob yang meniru astrolob Yunani. Dia menerjemahkan

Muhammad ibn Musa al Khwarizmi (780-850). Dia menyusun tabel astronomi tertua, karya aritmatika tertua dan tentang aljabar. Karyanya yang berjudul Hisab al Jabr wa al Muqabalah yang dilengkapi dengan lebih dari 800 contoh-sebagian diantaranya diambil dari contoh yang diberikan oleh orang Neo Babilonia merupakan karya utamanya, yang masih ditemukan dalam bahasa asli. Dia juga menyusun Surah al Ardh (Gambar/Peta Bumi) yang menjadi acuan bagi karya-karya berikutnya dan berhasil menggairahkan kajian geografi dan penulisan risalah geografis yang orisinal. Karya al Khwarizmi disertai dengan gambar bumi, sebuah peta yang ia buat dibantu oleh 69 sarjana lainnya atas perintah al Ma’mun-peta bumi dan angkasa luar pertama dalam sejarah Islam.

Abu Yusuf (w. 798.) telah mewariskan kepada kita pendapat utama gurunya dalam karyanya Kitab al Kharaj tentang prinsip deduksi analogis dan prinsip preferensi (istihsan).

Muhammad ibn Ismail al Bukhari (810-870) menulis kitab Shahih. Memilih 7397 dari 600.000 hadis yang ia peroleh dari 1000 guru dalam rentang waktu 16 tahun perjalanan dan kerja kerasnya di Persia, Irak, Suriah, Hijaz dan Mesir yang ia kelompokkan berdasarkan tema, seperti salat, ibadah haji dan perang suci.

Al Ma’mun membangun sebuah observatorium dengan supervisor seorang Yahudi yang baru masuk Islam, Sind ibn Ali dan Yahya ibn abi Manshur (w. 830 atau 831) di Jundaysabur berdekatan dengan Bayt al Hikmah di pintu masuk Syammasiyah, Baghdad. Di observatorium itu, para astronom kerajaan tidak hanya mengamati dengan seksama dan sistematis berbagai gerakan benda-benda langit, tapi juga menguji semua unsur penting dalam Almagest dan menghasilkan amatan yang sangat akurat. Sudut ekliptik bumi, ketepatan lintas matahari, panjang tahun matahari dan sebagainya. Al ma’mun membangun lagi sebuah observatorium di bukit Kasiyun di luar Damascus. Perangkat observasi pada saat itu terdiri atas busur 90o, astrolob, jarum penunjuk dan bola dunia. Ahli-ahli astronimi al Ma’mun melakukan salah satu perhitungan paling rumit tentang luas permukaan bumi. Tujuan perhitungan itu adalah untuk menentukan ukuran bumi dan kelilingnya dengan asumsi bahwa bumi berbentuk bulat. Pengukuran itu yang dilakukan di Sinjar, sebelah utara Efrat juga dekat denga Palmyra, menghasilkan panjang garis lintang bumi di tempat itu adalah 56 2/3 mil Arab – sebuah hasil pengukuran yang sangat akurat, lebih panjang sekitar 2877 kaki dari derajat lintang bumi sebenarnya di tempat itu, Dengan demikian, mereka menyimpulkan bahwa panjang lingkar bumi adalah 20.400 mil dan diameternya adalah 6500 mil.

Filosof pertama, al Kindi atau Abu Yusuf Yaqub ibn Ishaq mungkin lahir di Kufah sekitar 801 lalu tingggal dan meninggal di Baghdad pada 873. Karena merupakan keturunan asli Arab, maka ia memperoleh gelar “filosof bangsa Arab” dan ia merupakan reprentasi pertama dan terakhir dari murid Aristoteles di dunia timur yang murni keturunan Arab. Sistem pemikirannya beraliran ekletisme, namun al Kindi menggunakan neo Platonis untuk menggabungkan pemikiran Plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika neo Pythagorean sebagai landasan semua ilmu. Al Kindi lebih dari sekedar filosof, ia ahli perbintangan, kimia, ahli mata dan musik. Karya utamanya tentang ilmu optic geometris dan fisiologis yang didasarkan atas buku Optics kaya Euclid, digunakan secara luas di Barat dan Timur, sehingga akhirnya digantikan oleh buku karya Ibn al Haytsam. Melalui terjemahannya dalam bahasa latin, De Aspectibus, al Kindi telah memengaruhi pemikiran Roger Bacon. Tiga atau empat risalah al Kindi tentang teori musik merupakan karya paling awal dalam bahasa Arab yang masih ada dan memperlihatkan pengaruh para penulis Yunani dalam tema ini. Dalam salah satu risalah tersebut al Kindi menggambarkan ritme (iqa) sebagai bagian dari musik Arab. Dengan demikian lagu yang beritme atau musik yang terukur (mensurel music) telah dikenal orang Islam berabad-abad sebelum dikenal oleh Eropa Kristen.

Hisyam al Kalbi (w. 819) membuat tulisan sejarah pra Islam. Dari 129 karya yang tercatat dalam Fihrist, hanya tiga karyanya yang masih ada. Namun berbagai bagian tulisan dari karya-karya lainya dapat dibaca dalam bentuk kutipan dalam karya-karya al Thabari, Yaqut dan para penulis sejarah lainnya.

Kajian Ilmiah tentang perbintangan dalam Islam mulai dilakukan, seiring dengan masuknya pengaruh buku India, Siddhanta (bahasa Arab, Sindhind) yang dibawa ke Baghdad pada 771. Diterjemahkan oleh Muhammad ibn Ibrahim al Fazari dan digunakan sebagai acuan oleh para sarjana belakangan. Terjemahan awal karya Ptolemius, Almagest, disusul kemudian oleh dua karya yang lebih unggul: karya al Hajjaj ibn Mathar yang selesai ditulis pada 212 H/827-828 M dan karya Hunayn ibn Ishaq yang direvisi oleh Tsabit ibn Qurrah (w. 901).

Abu Jafar Muhammad ibn Jaris al Thabari (838-923), lahir Tabaristan, sebuah distrik perbukitan di Persia di sepanjang pantai selatan Laut Kaspia adalah karena buku sejarahnya yang sangat terperinci dan akurat Tarikh al Rusul wa al Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja).

Para penulis utama bidang kedokteran setelah babak penerjemahan (750-850) adalah orang Persia yang menulis dalam bahasa Arab. Ali ibn Sahl Rabban Al Thahari yang hidup pada pertengahan abad ke-9, pada awalnya adalah seorang Kristen dari Tabaristan. Pada 850 ia menulis buku Firdauws al Hikmah (Surga Hikmah), salah satu kompedium obat-obatan tertua dalam bahasa Arab. Hingga batas tertentu, karya ini juga mencakup kajian filsafat dan astronomi, dan didasarkan atas sumber-sumber Yunani dan Hindu.

Ahmad ibn Hanbali meninggal di Baghdad pada 855, adalah murid Syafi’I dan pengusung ketaatan mutlak kepada hadis.Untuk waktu yang lama, kitabnya yang berisi lebih dari 28.000 hadis, Musnad, menempati posisi khusus.

Abu al Abbas Ahmad al Farghani (Alfraganus) dari Fargana Transoxiana yang pada 861 diserahi tugas oleh al Mutawakkil untuk mengawasi pembangunan sebuah Nilometer, di Fushat. Dia menulis al Mudkhil ila Ilm Hay’ah al Aflak, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada 1135 oleh John dari Seville dan Gerard dari Cremona dank e bahasa Ibrani.

Setelah Ali, muncul Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya Al Razi (Rhazes, 865-925), yang disebut Al Rhazi sesuai dengan tempat kelahirannya , Rayy, dekat Teheran ibukota Iran. Bisa jadi ia merupakan dokter muslim terbesar dan sebenarnya, serta penulis paling produktif. Ketika mencari tempat baru untuk membangun sebuah rumah sakit besar di Baghdad, tempat ia kemudian menjabat sebagai kepala dokter, diriwayatkan ia menggantung sekerat daging di tempat-tempat yang berbeda untuk melihat tempat mana yang paling sedikit menyebabkan pembusukan. Ia juga dipandang sebagai penemu prinsip seton dalam operasi. Selain seorang dokter, ia juga seorang ahli kimia. Salah satu karya utamanya dalam bidang kimia adalah Kitab al Asrar (Buku Tentang Rahasia) dan menjadi sumber utama ilmu kimia hingga digantikan oleh karya al Jabir (Geber) pada abad ke-14. Roger Bacon mengutip buku itu dan menyebutkan judulnya De Spiritibus et Corporibus. Al Razi juga menulis Kitab al Thibb al Manshuri. Diantara monografnya yang paling terkenal adalah risalah tentang bisul dan cacar air (al Judari wa al Hashbah) dan menjadi karya pertama dalam bidang tersebut, serta dipandang sebagai mahkota dalam literatur kedokteran Arab. Didalamnya kita menemukan catatan klinis pertama pertama tentang penyakit bisul. Karya utamanya adalah al Hawi (buku yang komprehensif) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Continens. Al Hawi, pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan dukungan dari Dharles I dari Anjoou, oleh seorang dokter Yahudi Sisilia, Faraj ben Salim pada 1279. Dengan judul Continens, buku ini dicetak ulang sejak 1486 yang edisi kelimanya terbit di Venesia pada 1542.

Abu Utsman Amr ibn Bahr al Jahiz (si mata besar, w. 868-869) yang hidup di Bashrah membuat karya, Kitab al Hayawan (Buku tentang Hewan) lebih bersifat teologis dan folklore tidak bernuansa biologis. Al Jahiz tahu bagaimana memperoleh ammonia dari organ bagian dalam hewan melalui penyulingan.

Ibn Abd al Hakam (w. 870 -871) dari Mesir menulis Futuh Mishr wa Akhbaruha menjadi dokumen tertua tentang penaklukan Mesir, Afrika Utara dan Spanyol.

Muslim ibn al Hajjaj (w. 875) dari Naisabur menulis al Shahih, kumpulan hadis asli. Hadis yang terdapat dalam Shahih Muslim juga hampir sama dengan hadis dalam kitab al Bukhari, meskipun dengan sanad yang berbeda.

Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir al Battani (Albategnius, 877-918.) mengoreksi beberapa kesimpulan Ptolemius dalam karya-karyanya dan memperbaiki perhitungan orbit bulan, juga beberapa planet. Ia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cicncin, menentukan sudut ekliptik bumi dengan tingkat keakuratan yang lebih besar dan mengemukakan berbagai teori orisinal tentang kemungkinan munculnya bulan baru.

Ibn Majah dari Qazwin (w. 886) menulis kumpulan hadis Sunan.

Abu Ma’syar (w. 886) berasal dari Balkh di Khurasan dan tinggal di Baghdad. Ia merupakan tokoh otoritatif yang sering dikutif pada Abad Pertengahan dan dengan sebutan Albumassar, ia dipandang sebagai nabi dalam ikonograpi. Selain keyakinan fantastisnya akan pengaruh benda langit terhadap kelahiran, kejadian dalam hidup dan kematian segala sesuatu, Abu Ma’syar juga memperkenalkan ke Eropa hukum pasang surut laut, yang ia jelaskan dalam kaitannya dengan timul dan tenggelamnya bulan.

Muhammad ibn Muslim al Dinawari atau Ibn Qutaybah meninggal di Baghdad 889 menulis buku Kitab al Ma’arif (Buku Pengetahuan) sebuah buku pegangan sejarah.

Abu Dawud dari Bashrah (w. 888.) menulis kumpulan hadis dalam kitab Sunan.

Al Tirmidzi (w. 892) menulis kumpulan hadis Jami’.

Pada 891-892 Ibn Wadhih al Yaqubi seorang pengnut Syiah yang pernah tinggal di Armenia dan Khurasan, menulis Kitab al Buldan (Buku Negeri-Negeri) yang memberikan catatan detil tentang karakteristik topografi dan keadaan ekonomi setiap negeri.

Ahmad ibn Yahya al Baladhuri (w. 892) dari Persia menulis Futuh al Buldan dan Anshab al Asyraf (Buku Genealogi para Bangsawan). Ia merupakan orang pertama yang merangkum berbagai cerita penaklukan berbagai kota dan negeri ke dalam satu kompedium dan mengakhiri penggunaan monograf sebagai sumber penulisan sejarah.

Yaqub ibn Akhi Hizam merupakan ahli kuda al Mu’tadhid (892-902). Ia menulis sebuah risalah tentang perawatan kuda (al Furusiyah wa Syiyat al Khayl) yang merupakan karya berbahasa Arab pertama tentang kuda. Buku ini memuat cikal bakal seni perawatan kuda, dan kini manuskripnya disimpan di Musium Inggris.

Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud al Dinawari (w. 895) menulis al Akhbar al Thiwal (Cerita Panjang), sebuah buku tentang sejarah dunia dari sudut pandang orang Persia.

Abu al faraj al Ishbahani atau al Ishfahani (897-967) seorang sejarawan sastra terbesar. Karyanya Kitab al Aghani (Buku Nyanyian) merupakan warisan puisi dan sastra yang berharga dan sumber utama untuk mengkaji peradaban Islam.

Sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di Irak. Acuan utama penulisan draf ini dipersiapkan oleh al Jashsyiyari adalah karya Persia klasik, Hazar Afsana (kisah seribu) yang berisi beberapa kisah yang bersal dari India. Dia menambahkan kisah-kisah lain dari penutur kisah local. Kitab Afsana meberikan jalan cerita dan keragka serta penokohan pelaku utamanya termasuk Syahrazad. Dengan berlalunya waktu, sejumlah kisah tambahan terus dimasukkan dari berbagai sumber India, Yunani, Ibrani, Mesir dan lainnya.

Ibn Rustah menulis bukunya al A’laq al Nafisah (Kantung Berharga) yang berisi ketentuan bepergiaan sekitar 903.

Ibn Faqih al Hamadzani menyelesaikan karyanya sekitar 903, Kitab al Buldan yang merupakan sebuah buku geografi lengkap yang sering dikutip oleh al Maqdisi dan Yaqut.

Al Nasa’I yang meninggal di Mekah pada 915 menulis kumpulan hadis Sunan.

Qudamah setelah 928 menyelesaikan buku al Kharaj, yang menerangkan pembagian wilayah kekhalifahan ke dalam berbagai provinsi, organisasi layanan pos dan pajak setiap wilayah.

Abu Jafar al Khazin dari Khurasan bekerja di istana khalifah Buwayhi lainnya, Rukn al Dawlah (932-976) di Rayy. Dia yang memastikan sudut ekliptik bumi dan memecahkan persolan Archimedes tentang ekuasi kubik.

Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan abu Nashr al Farabi (Alpharabius) atau Al Farabi dilahirkan di Transoxiana. Sistem filsafatnya, seperti yang terungkap dari beberapa risalahnya tentang Plato dan Aristoteles, merupakan campuran antara Platonisme, Aristotelianisme dan merupakan campuran antar Platonisme, Aristotelianisme dan mistisme yang mebuatnya dijuluki al Muallim al Tsani setelah Aristoteles. Disamping sejumlah komentar terhadap Aristoteles, al Farabi juga menulis berbagai karya tentang psikologi, politik dan metafisika. Salah satu karya terbaiknya adalah Risalah Fushush al Hikam (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara Ahl al Madinah al Fadhilah (Risalah tentang Pendapat Penduduk Kota Ideal), al Siyasah al Madaniyah (Politik Madani) yang diilhami oleh Republic karya Plato dan Politics karya Aristoteles. Pada dua buku terakhir ini al Farabi mengungkapkan konsepnya tentang sebuah kota ideal , yang ia pandang sebagai organisme hirarkis, serupa dengan struktur tubuh manusia. Dalam konsepnya tentang kota ideal, tujuan dari sebuah organisasi adalah untuk kabahagiaan warganya dan pemegang kedaulatan adalah pihak yang paling sempurna dari sisi moral dan intelektual. Ia juga menulis Kitab al Musiqi al Kabir (Kitab Induk tentang Musik). Diriwayatkan bahwa dihadapan sahabatnya , Sayf al Dawlah, ia mampu memainkan gambus dengan permainan yang memukau, sehingga para pendengarnya akan tertawa, menitikakan air amata atau tetidur. Bahkan alunan musiknya itu terdengar dan mempengaruhi emosi para penjaga gerbang istana. Al Farabi meninggal di Damascus pada tahun 950.

Al Ishthakhri hidup sekitar 950 menulis Masalik al Mamalik dilengkapi dengan peta berwarna masing-masing negeri.

Ibn Hawqal (943-977) Atas permintaan al Ishthakri melakukan perjalanan ke Spanyol, memperbaiki peta-peta dan teks penjelasan geografsnya. Al Hawqal kemudian menulis ulang seluruh buku itu, lalu menerbitkannya kembali dengan judul baru al Masalik wa al Mamalik.

Abu al Hasan Ali al Mas’udi yang dijuluki Herodotus bangsa Arab telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan sejarah. Bukannya mengelompokkan berbagai peristiwa berdasarkan tahun kejadian, ia justru mengelompokkan berdasarkan dinasti, raja dan masyarakatnya. Al Mas’udi juga menulis Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Al Mas’udi menyimpulkan pemikirannya tentang filsafat sejarah dan alam dan tentang berbagai pendapat para filosof yang bekembang saat itu seputar tingkatan mineral, tumbuhan dan hewan dalam al Tanbih wa al Isyraf mirip dengan pendapat Pliny. Al Mas’udi meninggal di Fushthat pada tahun 957.

Ikhwan al Shafa merupakan kelompok persaudaraan sufi (970), menganut mazhab filsafat ekletik yang cenderung pada pemikiran spekulatif Pythagoras. Sebutan itu (Ikhwan al Shafa) mungkin diambil dari kisah Kalilah wa Dimnah yang mengisahkan bahwa sekelompok hewan yang berpura-pura menjadi sahabat dekat (Ikhwan al Shafa) satu sama lain berhasil menghindari para pemburu. Kumpulan risalah mereka Rasa’il yang disusun seperti ensiklopedia memuat 52 risalah yang membahas bidang matematika, astronnomi, geografi, musik, etika dan filsafat-merangkum semua pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang berperadaban. Mereka juga mengurai teori tentang ingkar kosmik, tempat tanah yang subur berubah menjadi gurun dan gurun menjadi tanah yang subur, padang pasir menjadi laut dan lautan menjadi padang pasir dan bukit.

Abu al Rayhan Muhammad ibn Ahmad al Biruni (973-1050) yang tinggal di Baghdad. Pada tahun 1030 ia menulis catatan tentang ilmu astronomi dengan judul Al Qanun al Masudi fi al Hayah wa al Nujum. Pada tahun yang sama ia menyusun sebuah buku tentang rumus-rumus geometri, aritmatika, astronomi dan astrologi yang berjudul al Tafhim li Awail Shinaah al Tanjim yang terutama membahas tentang perhitungan tahun, dan masa hidup bangsa-bangsa masa silam. Dalam karya-karyanya ia mendiskusikan dengan cerdas teori perputaran bumi pada porosnya yang mengundang perdebatan pada masa belakangan dan menghitung dengan akurat panjang garis lintang dan bujur bumi. Di antara kontribusi ilmiahnya adalah penjelasan tentang cara kerja mata air melalui prinsip hidrostatis yang menghasilkan teori bahwa Lembah Indus pada awalnya merupakan dasar laut kuno yang dipenuhi bebatuan sediment disertai gambaran tentang sejumlah makhluk yang menyeramkan, termasuk apa yang kita sebut sebagai manusi kembar siam. Al Biruni yang terkenal dengan keakuratan hasil penelitiannya juga telah menentukan berat jenis 18 macam batu dan logam berharga.

Ibn Sina atau Avicenna (980-1037) yang disebut oleh orang Arab sebagai al Syaikh al Rais, pemimpin orang terpelajar dan pangeran para pejabat. Al Razi lebih menguasai kedokteran dari pada Ibn Sinna, namun Ibn Sina lebih meguasai filsafat daripada al Razi. Al Qifthi hanya menyebtkan 45 karya ibn Sina, namun seorang penulis biografi modern menyebutkan lebih dari 200 karya Ibn Sina yang mencakup tulisan filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, teologi, filologi dan kesenian. Dua buku ilmiah unggulnya adalah Kitab Al Syifa (buku tentang penyembuhan), sebuah buku ensiklopedia filsafat yang didasarkan atas tradisi Aristotelian yang telah dipengaruhi oleh neo Platonisme dan teologi Islam, serta al Qanun fi al Thibb yang merupakan kodifikasi pemikiran kedokteran Yunani Arab. Buku ini membedakan mediastinum dan pleurisy (pembengkakan pada paru-paru) dan mengenali potensi penularan wabah phthisis (penyakit saluran pernafasan, terutama asma dan TBC) melalui pernafasan dan penyebaran berbagai penyakit melalui air dan debu. Buku ini memberikan diagnosis ilmiah tentang penyakit ankylostomiasis dan menyebutkan cacing pita sebagai penyebabnya. Obat-obatan yng disebutkan dalam buku ini berjumlah sekitar 760 macam. Ibn Sina merupakan tokoh juga menulis karya-karya paling penting dalam bahasa Arab tetang teori musik. Ibn Sina yang pernah dijuluki sebagai ahli kedokteran, banyak mengadopsi pandangan filosofis al Farabi. Menurut ibn Khallikan, tidak ada satupun orang Islam yang pernah mencapai pengetahuan filosofis yang menyamai prestasi al Farabi, dan melalui kajian terhadap berbagai karyanya serta peniruan terhadap gaya penulisannya itulah Ibn Sina mencapai keunggulan dan menjadikan karya-karyanya sedemikian bermanfaat. Meskipun demikian Ibn Sina merupakan pemikir yang sanggup menyatukan berbagai kebijaksaan Yunani dengan pemikirannya sendiri yang dipersembahkan untuk kalangan muslim terpelajar dalam bentuk yang mudah dicerna.Melalui kar-karyanya, sistem pemikiran Philo dapat diselaraskan dengan ajaran Islam

Abd al Rahman al Shuffi (w. 986) yang menulis bukunya al Kawakib al Tsabitah (Bintang-Bintang yang Berada pada Tempatnya), Ahmad al Shagani (w990) dan Abu al Wafa( w 997. Ketiganya sama-sama berkeja di observatorium lai di istana Sultan Dinasti Buwayhi, Syaraf al Dawlah (982-989) di Baghdad.

Al Maqdisi atau al Muqaddasi telah mengunjungi seluruh seluruh negeri Islam, kecuali Spanyol, Sijistan dan India Pada 985-986 menuliskan seluruh catatan 20 tahun perjalananya dalam karya yang memukau Ahsan al Taqasim fi Ma’rifah al Aqalim (Klasifikasi Ilmu Geografi Yang Terbaik) yang memuat infromasi yang segar dan berharga.

Ali Ibn al Abbas (Haly Abbas, w. 994) yang awalnya menganut ajaran Zoroaster, sebagaimana terlihat dari namanya, Al Majusi, dikenal sebagai penulis buku al Kitab al Maliki (Buku Raja, Liber Regius) yang ia tulis untuk raja Buwayhi, Adhud al Dawlah Fanna Khusraw yang memerintah antara 949-983. Karya ini, juga disebut Kamil al Shinaah al Thibbiyah, semua kamus penting yang meliputi pengetahuan dan praktik kedokteran, lebih ringkas daripada al Hawi (al Hawi merupakan karya al Razi) dan dipelajari dengan lebih bersemangat. Bagian terbaik dari buku al Maliki membahas hal ihwal makanan bergizi dan perawatan medis (material medica). Diantara sumbangan utamanya adalah konsep awal tentang sistem pembuluh darah kapiler dan pembuktian bahwa pada saat persalinan, seorang bayi tidak keluar dengan sendirinya, tetapi didorong oleh kontraksi otot dalam rahim.

Abu Bakr Muhammad al Karaji ( secara keliru disebut Karhkhi, meninggal antara 1019 dan 1029) menulis buku al Kahfi al Hisab (Tuntutan aritmatika).

Miskawayh meninggal di Isfahan pada 1030 membuat karya Tahzhib al Akhlaq yang merupakan karya etika terbaik yang sarat dengan nuansa filosofis-menampilkan kecenderungan neo Platonis-yang pernah ditulis seorang muslim.

Ahmad al Nasawi (w 1040) yang dalam bukunya al Muqni fi al Hisab al Hindi (Pengokoh Perhitungan Hindu) menjelaskan pembagian pecahan dan pengurangan akar kuadrat dan akar kubik dengan cara modern.

Ibn Jazlah (Bengesla, Byngezla, w. 1100) yang awalnya beragama Kristen. Menulis sinopsis medis yang berjudul Taqwiw al Abdan fi Tadhir al Ihsan (Tabel Tubuh Yang terkait dengan Pengaturan Fisik Manusia).

Umar al Khayyam lahir sekitar 1038-1048 di Naisabur, meninggal disana sekitar 1123-1124. memperbaharui kalender Persia kuno. Para peneliti dan asisten penelitian yang bekerja bersama al Khayyam berhasil membuat sebuah kalender yang diberi nama al Tarikh al Jalali bahkan lebih akurat daripada kalender Gregorius yang keliru satu hari dalam 3330 tahun, sementara yang pertama (Tarikh al Jalali) keliru satu hari dalam 5000 tahun. Umar al Khayyam juga ahli matematika kelas satu. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Al Khwarizmi. Aljabar al Khayyam merupakan pengembangan lebih jauh dari aljabar al Khwarizmi, membahas solusi pecahan tingkat dua dengan menggunakan geometrid an aljabar (geometric and algebraic solutions of equations of the second degree) dan pengelompokan pecahan yang menakjubkan.

Ali ibn Isa (Jesu Haly) seorang ahli mata terkenal bangsa Arab. Karyanya yang berjudul Tadzkirah al Kahhalin (Catatan untuk para ahli mata) yang kini bisa dijumpai dalam bentuknya yang utuh dan orisinal. Tadzikrah menjelaskan dengan cermat 130 macam penyakit mata. Ali, seorang Kristen yang hidup di Baghdad pada paruh pertama abad ke-11.

Ibn Buthlan meninggal di Antioka sekitar 1063, menulis buku Taqwiw al Shihhah. Nama penyakit disusun seperti susunan nama-nama bintang dalam tabel astronomi.

Yaqut ibn Abdullah al Hamawi (1179-1229) seorang penulis kamus geografi Mu’jam al Buldan. Mu’jam ini memuat nama berbagai tempat yang disusun secara alfabetis merupakan ensiklopedia yang sangat penting yang selain memuat geografi yang ada pada saat itu, juga berisi informasi berharga tentang sejarah, etnografi dan ilmu pengetahuan alam.

Syihab al Din al Tifasyi yang meninggal di Kairo pada 1253 menulis Azhar al Afkar fi Jawahir al Ahjar (Bunga Rampai Pemikiran tentang Batu-Batu Berharga) membicarakan tak kurang dari 24 jenis batu berharga , meliputi asal usul, wilayah geografis, kemurnian, harga, nilai magis dan pengobatan dan hanya mengutip sumber-sumber berbahasa Arab.

Nashr al Din al Thusi (w. 1274) menjadi direktur yang pertama pada observatorium Maraghah. Perangkat yang digunakan meliputi model galaksi tata surya, mural quadrant dan solstitial armil. Dia menyusun tabel astronomi baru yang disebut al Zij al Il Khani.

(Disadur dari buku History of the Arabs karya Phillip K. Hitti edisi revisi ke-10 yang diterbitkan oleh PT. Serambi Ilmu Semesta, tahun 2006)

Iklan

2 thoughts on “Ancilla Theology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s