FORESTRY

PEMBANGUNAN DATA BASE KEHUTANAN PARTISIPATIF MENJIPLAK IDE WIKIMAPIA


Tantangan dunia kehutanan Indonesia ke depan akan semakin sulit. Banyak permasalahan yang belum terpecahkan dan akan terus bermunculan. Kemiskinan masyarakat sekitar hutan, illegal loging, kebakaran hutan, deforestasi hutan, belum mantapnya kawasan hutan sampai global warming yang sudah di depan mata.

Semua permasalahan diatas harus segera ditangani secara cepat, cerdas, bijak, efektif dan efisien. Untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang pelik tersebut, data dan informasi yang akurat dan up to date memiliki peranan yang sangat penting.

Selama ini, data dan informasi kehutanan dan sumber daya hutan belumlah terintegrasi dengan baik – tercecer di sana sini, sering kali out of date, kurang lengkap, dan kualitasnya kurang memadai. Pastilah akan sulit untuk bisa membuat keputusan atau kebijakan yang baik dan benar, jika kondisinya demikian. Oleh karena itu, penulis mengusulkan untuk membangun data base kehutanan yang bersifat partisipatif.

Dalam tulisan ini yang dimaksud pembangunan data base kehutanan partisipatif adalah pembangunan data base bidang kehutanan yang menggunakan filing geografis dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Filing geografis dianggap sangat cocok untuk diterapkan, mengingat luasnya kawasan hutan, serta wilayah negara Indonesia yang bersifat kepulauan.

 

Boleh dibayangkan bahwa bentuk real “pembangunan data base kehutanan partisipatif“ adalah Departemen Kehutanan menyediakan peta online yang memungkinkan masyarakat atau user untuk memberikan data dan informasi suatu daerah yang dimilikinya mengenai kehutanan, sumber daya hutan atau data dan informasi lain yang dianggap perlu. Tentu saja dengan tetap melalui aturan-aturan tertentu, sehingga data base yang terbangun nantinya tidak terlalu “kotor”. Jadi data dan informasi yang dimaksud disini, bukan data dan informasi kehutanan dan sumber daya hutan an sich, tetapi bisa juga dari bidang lain seperti ekonomi dan sosial.

 

Sebenarnya, ide ini – pembangunan data base kehutanan partisipatif – menjiplak ide dasar wikimapia, dimana user dapat berpartisipasi untuk menambahkan atau memberikan catatan pada peta online yang disediakan. Sebagaimana yang tercantum dalam http://id.wikipedia.org, WikiMapia adalah sebuah sumber daya peta online yang mengkombinasikan antara Google Maps dengan sistem wiki, memungkinkan pengguna untuk menambahkan informasi (dalam bentuk catatan) pada lokasi manapun di bumi. “.

 

Pastinya kita tidak bisa menjiplak mentah-mentah konsep wikimapia. Harus ada modifikasi, untuk disesuaikan dengan kebutuhan data base Departemen Kehutanan. Sistem pembangunan data base ini juga harus bisa mengeliminir kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem wikimapia.

 

User yang memberikan catatan, data dan informasi yang bersifat “sensitive” pada peta online, tetap harus memberikan identitas yang jelas untuk keperluan verifikasi data. Hal ini merupakan implementasi azas kebebasan yang bertanggung jawab, sehingga user tidak akan “seenaknya” memberikan catatan, data dan informasi pada peta online.

Keuntungan-keuntungan pembangunan data base kehutanan secara partisipatif ini antara lain data dan informasi akan cepat terkumpul. Hal ini jelas, karena pada sistem online dan terbuka memungkinkan banyak orang untuk ikut berpartisipasi membangun data base tanpa ada batasan waktu dan ruang. Ketiadaan batasan ruang dan waktu, galibnya juga akan menghasilkan data dan informasi yang bersifat mutakhir.

Sebagai gambaran, Wikimapia Indonesia merilis bahwa pada tanggal 16 Agustus 2006, satu juta lokasi telah teridentifikasi. Tanggal 2 Oktober, jumlah lokasi meningkat hingga menjadi lebih dari 1,6 juta. Angka ini melewati dua juta pada tanggal 22 November 2006 (http://id.wikipedia.org). Dua juta lebih lokasi teridentifikasi hanya dalam waktu kurang lebih empat bulan. Hasil yang sangat luar biasa tersebut tentu tak akan mungkin tercapai, jika manusia hanya berpikir secara konvensional.

Karena sistem ini menggunakan filing sistem geografis, maka data dan informasi yang bersifat unik dan lokalistik tidak akan hilang. Hal ini sangat berguna, pada saat membreak down kebijakan umum pemerintah, sehingga strategi pembangunan kehutanan yang dibuat oleh pemerintah akan tepat sasaran dan tepat waktu.

 

Keuntungan lain dari sistem ini adalah jika dibandingkan dengan cara konvensional, biaya pengumpulan data dan informasi akan jauh lebih murah. Pemerintah bisa menekan biaya yang sangat mahal untuk membiayai tenaga kerja, logistik, akomodasi dan peralatan yang diperlukan untuk mencaptur data dan informasi bila dikerjakan secara konvensional.

 

Agar sistem ini berjalan sesuai harapan, diperlukan promosi dan sosialisasi bukan hanya sampai tingkat meso, tetapi juga harus sampai pada level grass root, sehingga masyarakat kenal dan tahu, dan pada akhirnya dapat ikut berpartisipasi membangun data base kehutanan. Karena sesungguhnya data base yang akan terbangun, tidak hanya berguna bagi Departemen Kehutanan, tetapi juga berguna bagi lembaga pemerintah yang lain, swasta dan masyarakat. Transparancy and democracy are not impossible.

 

 

* Tulisan ini dimuat dalam Buletin Belantara Ed. Desember 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s