Uncategorized

My Life (Part I)


Dilahirkan dan dibesarkan sampai SMA di Banyuwangi, kurang lebih 33 tahun yang lalu. Pada umur 3 tahun aku sudah masuk TK, tapi masih ditunggu oleh ibuku. Perempuan paling sabar dan paling tabah dalam menghadapi kerasnya hidup. Semoga aku bisa mencontohnya. Sempat mogok sekolah sekian bulan, namun akhirnya mau lagi duduk di bangku sekolah. Sepertinya ini dicontoh juga oleh Raya-anakku. Dia juga mogok sekolah selama 3 bulan waktu sekolah di Taman Pelita.

Masih ingat olehku teman-teman TK menjemput aku untuk berangkat bareng di sekolah, sementara aku masih didandani di atas meja oleh ibuku. Thank you so much, mom. You love me so much till now. Dulu ibuku suka menguncir dua rambutku, terus dikepang dan dikasih pita, karena rambutku panjang.  Jika sudah selesai, kami berangkat berbarengan, sambil bercerita apa saja. Kadang-kadang,  aku digendong juga sama Mbak I’im atau Nduk Nanik, sambil nowel pipiku yang chubby. Mbak I’im  dan Nduk Nanik itu kakak kelas TK-ku. Nggak tahu kenapa mereka mau-maunya me nggendong aku. Padahal tubuhku berat, karena gendut sejak kecil.

Tidak seperti anak TK sekarang, yang membawa bekal  makanan dan minuman, kami cuma membawa bekal minum dalam termos.  Isinya teh manis, sekali-kali susu coklat jika ibuku punya duit lebih. Biasanya awal bulan Bapakku gajian. Aku paling senang,  jika mendapat bekal susu coklat. Nikmatnya ….

Jika tujuh belas agustus, sekolah-sekolah di kampungku sibuk menyiapkan perayaan kemerdekaan. Kami menyebutnya agustusan. Suatu kali aku mendapat tugas berpakaian Bali (Finally, I live in Bali). Ibuku merayu aku mati-matian supaya mau didandani. Maklum harus memakai  kain dan kebaya. Perutku harus diikat stagen kuat-kuat, agar kain tak melorot. Ini menyakitiku. Rambutku diigelung ala Bali. Waktu itu kainku berwarna hijau gemerlap dan kebayaku berwarna putih. Memakai sandal selop. Jika dipakai berjalan susah. Kata orang Jawa, jalannya timik-timik.  Dan kami harus berjalan kurang lebih 3 kilometer. Jauh sekali untuk ukuran anak kecil. Aku dipasangkan dengan Eko, teman lelakiku. Setelah  acara karnaval selesai, teman-teman TK mengolok-olok aku pacarnya Eko.Tahukan rasanya? Hari-hari yang menyebalkan dan memalukan. Itu berlangsung sampai kami lulus TK. Eh… sekarang malah dia menjadi adik iparku.

Lulus TK, aku sekolah di SD bersama-sama dua kakakku. Jadi kalau berangkat, aku dibonceng oleh kakak lelakiku atau berjalan kaki. Teman sebangkuku namanya Fernita Indayani. Masih saudara satu buyut denganku. Kami kompak sekali. Urusan apa pun yang berbau sekolah, kami selalu bersama, sampai kelas 6 SD. Bahkan saat guruku  memiliki ide untuk mendudukkan murid lelaki dan perempuan berpasangan, aku tak mau berpisah dengan Ita. Akhirnya kami duduk bertiga sebangku, aku -Ita dan Winarto. Jika teman-temanku iseng, mereka mengatakan kami pasangan Brama Kumbara. Karena Brama Kumbara memiliki dua istri.

Aku sering mampir ke rumah kakeknya yang juga kakekku. Apalagi jika musim rambutan. Aku doyan banget dengan buah rambutan. Jika mampir ke rumah Ita, bisa sampai sore baru pulang. Biasanya setelah makan siang, kami mengerjakan PR atau pergi di tepi Kali Setail. Membantu Ita mencuci baju, atau sekedar main batu. Aku jarang mau mandi di sungai. Waktu itu aku sudah merasa jijik dengan air Kali Setail yang berwarna coklat. Mungkin itu hasil doktrin Bapakku, agar tak mandi di sungai. Pernah mencoba mandi dan gosok gigi di sungai. Hasilnya aku muntah-muntah, karena pas gosok gigi melihat kotoran manusia. Hiii… Setelah itu, aku kapok benar mandi di sungai.

Sewaktu kelas 1 SD, setelah menerima raport, aku memperlihatkan nilai-nilaiku pada Nanang, saudara sekaligus kakak kelasku. Sebab aku heran, nilaiku beda dengan nilai teman-temanku. Aku memperlihatkannya diatas jembatan,karena waktu itu kami berangkat jalan kaki. Terus dia berkata, “Neny, iki apik. Berarti kamu  pinter.” Aku terheran-heran. Ternyata artinya pinter to….. Guruku tak berkata apa-apa. Dan yang mengambil raport waktu itu bukan orang tua. Sampai di rumah dengan bangga kuserahkan raportku kepada Sang Bapak. Dia tampak puas.

Setelah tahu artinya seperti itu, aku makin rajin belajar. Rajin pangkal pandai, kata guruku. Dan aku memang termasuk murid yang manis, meski kadang-kadang bandel juga. Jarak antara rumah dengan sekolahku agak jauh, harus melewati tegalan yang rimbun dan cukup luas. Aku jarang berani pulang sendirian. Padahal aku pasti mendapat giliran pertama untuk pulang, karena selalu yang paling pertama bisa menjawab pertanyaan guru-guruku. Jadi biarpun keluar kelas pertama, pulangnya tetap bareng dengan teman-teman. Aku suka menunggu mereka di teras depan kelasku, sambil main buah-buah berwarna kuning-sampai sekarang aku tak tahu namanya atau membuat sapu-sapuan dari batang perdu, untuk main rumah-rumahan besoknya.

Kakakku yang perempuan sangat pintar menari. Kakakku yang lelaki pintar melukis. Aku juga bisa menari, tapi tak sehebat kakakku. Kakakku adalah penari primadona pada grup kesenian yang dimiliki oleh Bapakku. Dia melihat sebentar saja sudah bisa menirukan. Kalau aku butuh diulang-ulang. Guru menari kami, kadang sampai jengkel. Tapi aku sempat juga mewakili SMP-ku lomba menari di Kabupaten, meski kalah. He he he . Menurutku kekalahan itu bukan karena gerakan tubuh kami yang buruk, tapi karena koreografinya yang masih jadul. Tidak mau berinovasi seperti tim-tim lain. Mungkin pikiran guru menari kami yang belum seliar Sadono atau Didik Nini Thowok. Bukankah untuk menjadi yang terbaik, pikiran kita memang harus melampaui batas ruang dan waktu? Seringkali harus liar, jika disandingkan dengan pakem-pakem pada pranata sosial yang sudah ada. Kata Bung Karno “Berpikir berpuluh-puluh tahun dan berbenua-benua.” Kata Robert T. Kiyosaki, “Untuk menjadi yang terbaik, belajarlah kepada orang yang terbaik.”

Bapak almarhum pintar memainkan alat musik apapun. Bisa menciptakan tarian, mengaransemen musik dan seorang komposer .  Jika di kabupaten mengadakan festival kesenian, karya-karyanya selalu mendapat juara. Sewaktu hari raya Idul Fitri kemarin, ketika kami bertiga berkumpul, aku mengatakan kepada kedua kakakku bahwa aku pernah mendengar lagu ciptaan Bapak di sebuah stasiun radio. Aku yakin sekali itu ciptaan beliau. Sebab setiap kali menciptakan lagu-lagu, beliau selalu meminjam kamarku. Kemudian di tembangkan bersama penyanyi pilihannya. Sesekali boleh duduk didekatnya, seringnya disuruh menjauh, karena perlu konsentrasi tinggi untuk bernyanyi. Kata beliau.  Ternyata kedua kakakku mengiyakan. Bahkan kata kakak perempuanku ada lagunya yang menjadi lagu wajib di Banyuwangi dan di PDI-P Cabang Banyuwangi. Kakak perempuanku ini salah satu penyanyi pilihan Bapakku, jika lagu-lagunya harus dinyanyikan oleh banyak orang.

Terakhir beliau diangkat sebagai Pembina Kebudayaan  dan Kesenian oleh Bupati Banyuwangi, tanpa ada satu pun keluarganya yang tahu. Aku sendiri mengetahuinya setelah Bapakku meninggal, melalui kartu identitas yang ada di lemari beliau. Yang ditandatangi langsung oleh Bupati. My best father. Lelaki kalem yang sarat prestasi. Semoga kami bisa mencontohnya.

Bapakku itu orangnya low profile. Jarang berbicara, tapi sekali berbicara “terasa hebatnya”.  Seingatku   baru dua kali dimarahi oleh beliau. Yang pertama saat aku misuh-misuh, padahal umurku masih dibawah lima tahun, yang kedua saat main hujan-hujanan – Bapakku tidak suka melihat anaknya main hujan-hujanan. Bapakku juga lelaki dermawan dan penolong. Rasanya semua keluarga kami, pernah mendapat uluran tangannya. Kakak perempuanku kadang ngedumel, karena seringkali kebaikannya melebihi kepada anak kandungnya. Mungkin itulah sebabnya keluarga besar kami sangat kehilangan, saat Bapak meninggal dunia. (Terima kasih atas sejarah baik dan buruk yang sudah diberikan kepada kami. I love you so much).

Ibuku seorang perempuan pandai pada zamannya. Pintar menjahit, menyulam, merenda, memasak. Bertani  beliau juga bisa. Hasilnya sangat halus. Rasanya aku tidak mampu menandingi kehebatannya itu. Beliau juga tak banyak omong , penyabar dan sangat kuat. Lahir dan batin. Aku tak pernah dimarahinya. Kok sifatnya ini nggak nurun ke aku ya? Duh Gusti, turunkan sifat baik itu kepada hambamu yang pendosa ini. Amien.

Suatu hari, kakak perempuanku membaca majalah Bobo. Dia tertawa terpingkal-pingkal. Aku heran melihatnya. Lantas kutanya, “Kenapa?” Dia menjawab ada yang lucu. Ditunjukkanlah  rubrik “Pengalamanku Yang Lucu” pada majalah Bobo kepadaku. Kemudian aku ikut tertawa terpingkal-pingkal, setelah melihatnya.  Padahal itu bohongan belaka. Aku tak tahu mana bagian yang lucu. Cuma malu, kalau menanyakan kepada kakakku mana yang lucu. Sampai sekarang, jika teringat kenangan itu, aku suka terpingkal-pingkal.

Pernah juga diajak ke sekolahnya untuk melihat ikut kegiatan ekstrakurikuler menari di SMP-nya (SMP-ku juga akhirnya). Namun di tengah jalan, aku jatuh ke sawah, karena tertidur di sepeda. Untungnya ada Pak Tani yang berteriak kepada kakakku, kalau adiknya terjatuh. Ya ampun…..Kok bisa ya? Tertidur dan terjatuh, tapi tak merasa. (Thanks a lot, Sis. You are my best sister)

Sebenarnya aku lebih dekat dengan kakak lelakiku.  Dia yang mengajari aku naik sepeda. Pernah terseret di jalan aspal, saat dibonceng olehnya dengan kecepatan tinggi  hingga kedua lututku lecet besar. Padahal aku sudah berteriak-teriak, “Mas, aku jatuh!”.  Tapi kakakku tak mendengar. Malamnya aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku, badanku demam.  Pernah ditabrak sepeda ontel sampai  kepalaku harus dijahit, ketika mau beli sarapan bersamanya. Daguku juga dijahit, robek, karena rebutan kursi saat hujan. Tetapi jika mendapat PR menggambar, aku sering minta digambarkan olehnya. Kalau digambarkan oleh kakakku, nilainya selalu 8 (delapan). Ha ha ha…

Kakak lelakiku ini suka sekali menasehatiku. Dan aku sanggat kooperatif terhadap nasehat-nasehatnya. Salah satunya, “Kalau mau disenengi orang, ambil hatinya”. Nasehatnya itu sangat universal, tak lengkang dimakan zaman. Tak  perlu ilmu pengasihan atau dukun untuk bisa diterima oleh orang lain. Ambil hatinya saja, sudah cukup. Menurutku “ambil hatinya” berarti bisa menyenangkan hati seseorang dengan sikap kita, kalimat kita dan perbuatan kita yang tulus dari hati kita juga.

Kakak lelakiku juga yang memberiku semangat untuk lulus SD dengan  nilai terbaik dan NEM harus minimal 40. Kualitas dan kuantitas harus diperhatikan. Dia sering mendebatku, jika aku memcoba berargumen. Hanya untuk memastikan aku konsisten dengan ucapanku. Sejak SD, kami sering mendebatkan sesuatu. Biasanya aku berteori berdasarkan ilmu yang didapat dari guru-guruku atau hasil membacaku. Dia juga yang menyuruhku untuk sering bertanya. “Tanyakan apa pun! Cari jawabannya!” Luar biasa sekali kalimat itu. Dan memang, aku lulus dengan nilai terbaik di sekolahku. Mungkin jika aku tak punya dirimu, aku tak akan seperti sekarang ini. (Thanks, bro,  for everything. I love you so much).

Dulu sewaktu aku  kelas 1 SD, kedua kakakku ini suka sekali menyelesaikan teka-teki silang. Tiap kali melihat, saat itu pula aku tak pernah mengerti kok bisa ya mereka memutuskan untuk menulis huruf-huruf di kotak kosong. Sangat aneh!!! Hingga suatu hari, saat di rumah tak ada siapa pun, aku memutuskan untuk mengambil sebuah buku teka teki silang itu. Aku duduk di atas kasur, di tanganku sudah siap sebuah pena. Hmmm…Kubaca . Mendatar 1. dan seterusnya. Kulihat kotak-kotaknya. Kubaca lagi. Menurun 1. dan seterusnya. Kulihat lagi kotak-kotaknya. Bagaimana cara mengisinya? Aku benar-benar bingung. Akhirnya kuputuskan kuisi kotak-kotak kosong itu sesuka hatiku.  Ha ha ha…Ketika buku TTS itu diambil oleh kakakku, mereka berdua tertawa melihat jawabanku. Karena kebanyakan huruf yang kutaruh di kotak-kotak kosong adalah huruf A.

Memang aku suka sekali huruf A. Menurutku huruf A adalah simbol superioritas. Jika orang mengatakan grade A, asosiasinya pasti yang terbaik kan? Dan bukankah kita memang harus menjadi yang terbaik, paling tidak untuk diri kita sendiri? Itulah sebabnya ketiga nama anakku semua berawalan huruf A. Aileen Diva Nirwana Budi, Al Fath Raya Surya Palabra Budi dan Azzam Al Farabi Firdaus Budi. Budi adalah nama suamiku.

Tapi Diva suka menambahi namanya dengan namaku. Katanya, “Ma, namaku Aileen Diva Nirwana Budi Neny.” O o o, Si Gendukku ini ada-ada saja idenya. Jika Raya kutanya namanya siapa, dia akan menjawab dengan cepat, “Al Fath Raya Surya Palabra Budi Hariono.” Katanya namaku juga Neny Triana Budi Hariono. Mungkin karena semua saudaranya ada nama Ayahnya, sehingga namaku pun harus ada nama Ayahnya. Ha ha ha…anak lanangku.

(Koepang, 3-4 Maret 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s