FORESTRY

“Enam” Sukses Departemen Kehutanan, Pengembangan IPTEK Kehutanan


Jika kita ditanya apakah kehutanan Indonesia sudah maju? Kalau boleh jujur, saya akan bilang belum. Anda sepakat bukan? Lho, kok bisa? Ya…karena fungsi-fungsi ekologi dan ekonomi hutan belum maksimal terjalankan.Contohnya luas lahan hutan menurun drastis, degradasi hutan, kemiskinan masyarakat sekitar hutan, illegal logging, annual wild fire (karena kebakaran hutan selalu terjadi tiap tahun), dan lain-lain.

 

Satu benang merah yang bisa diambil, bila kita melonggok pada sejarah negara-negara maju ataupun kebangkitan perabahan budaya Yunani, Islam dan Barat adalah setiap proses selalu diawali dengan penggalian dan pengembangan  ilmu pengetahuan pada masing-masing zamannya. Iklim kondusif yang sengaja diciptakan oleh “penguasa” pada waktu itu, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, terbukti telah membawa manusia pada posisi yang mapan secara ekonomi dan social.

 

Pada abad pertengahan (middle age) dengan semboyan ancilla theology-nya, Islam mencapai zaman keemasannya. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang saat itu menjadi penguasa kekhalifahan Islam memberikan iklim kondusif bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Mereka tidak pelit kepada para ahlul ilm yang dinilai mampu membuat karya besar. Dokter pribadi  al Rasyid – Jibril memperoleh upah 100 ribu dirham dari khalifah yang mesti berbekam dua kali dalam setahun, dan ia juga juga menerima jumlah yang sama karena jasanya memberi obat penghancur makanan di usus (Phillip K. Hitti, ed. Rev 10, tahun 2006).

 

Pada masa pertengahan juga, orang Arab telah memperkenalkan tradisi penelitian objektif dalam ilmu kimia dan fisika lainnya, sebuah perbaikan penting terhadap tradisi pemikiran spekulatif orang Yunani. Perlu diketahui pula bahwa setelah orang Romawi, orang Arab adalah satu-satunya bangsa pada abad Pertengahan yang melahirkan ilmu  yurisprudensi dan darinya berkembang sebuah sistem yang independent yang disebut fikih. Fikih pada prinsipnya didasarkan atas Al Quran dan Sunnah (hadis), yang disebut ushul (akar, prinsip) dan dipengaruhi oleh sistem Yunani Romawi. (Phillip K. Hitti, ed. Rev 10, tahun 2006).

 

Patut dikutipkan, “Keberhasilan pembangunan pertanian Jepang adalah buah dari pandangan ke depan yang mengesankan. Keputusan-keputusan yang bersifat jangka panjang yang secara dini ditetapkan dalam kurun Meiji mengantar kepada terciptanya perguruan-perguruan tinggi pertanian, pangkalan-pangkalan riset, dan lembaga-lembaga lain yang perlu untuk merealisir potensi yang terkandung dalam ekonomi pedesaaan Jepang yang diperluas. Jelas bahwa pemimpin-peminpin politik dan para pejabat pemeritah di segala tingkat memandang perbaikan pertanian sebagai suatu hal yang besar kepentingannya, serta memberikan dukungan berarti kepada karya penelitian pertanian serta personel pengembangan.” (Bruce F. Johnston dalam Pertumbuhan Ekonomi dan Pertanian Pengalaman Jepang, 1983, hal 67-69). Meiji memberikan ruang gerak dan penghargaan yang besar bagi sarjana-sarjana Jepang yang mampu memberikan inovasi bagi kemajuan bangsanya. Hebatnya lagi, Jepang dengan budaya budishonya sangat selektif dalam menerapkan teknologi Barat, karena mereka tahu banyak yang tidak cocok dengannya.

 

Keseriusan pemerintah Amerika Serikat pada bidang pendidikan dan sains tercermin pada anggaran belanja pendidikannya yang sangat besar. Di Amerika Serikat pembiayaan public school berasal dari pemerintah lokal, pemerintah negara bagian (sumber utama untuk memperbaiki public education), dan pemerintah federal, yang ketiganya diperoleh melalui pajak. Mengingat kegiatan pendidikan dibiayai dari pajak, maka para pembayar pajak akan mempengaruhi bagaimana dan untuk apa saja uang digunakan dalam kegiatan pendidikan. Pembaharuan pendidikan pada public education merupakan hal yang disoroti secara tajam oleh para pembayar pajak dan para peminat pendidikan, disamping pemerintah Amerika Serikat (Dimyati, 1988:71-73 dalam www.ekofeum.or.id).

 

Cukuplah kiranya narasi di atas menjadi argument bahwa sudah seharusnya departemen kehutanan mulai membuat iklim kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan. Sehingga, mungkin bukan hanya lima sukses departemen kehutanan nantinya, tapi enam sukses departemen kehutanan, ditambah dengan  “Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kehutanan”.

 

Jika memang nantinya departemen bisa secara eksplisit dan implisit menyatakan dukungannya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan, maka tentunya dirjen-dirjen dan upt-upt dibawahnya akan berusaha mengejawantahkan hal ini. Harapannya, akan muncul banyak hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa memecahkan permasalahan dan memajukan kehutanan Indonesia. If there is will, there is a way.

 

Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Belantara Edisi I Tahun 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s