FORESTRY

Gerakan Sejuta Pohon Kabupaten Sumbawa Barat


Pukul setengah tujuh pagi, kakiku menginjak tanah pelabuhan Poto Tano, pulau Sumbawa. Irama musik dangdut berdentuman dari speaker kapal yang sedang bersandar di pelabuhan, berusaha mempercepat denyut jantung. Bola mataku langsung melihat sekeliling. Bukit-bukit di sekitar pelabuhan terlihat gersang. Hanya ada beberapa pohon di puncak bukit, yang dari kejauhan seperti siluet biri-biri mencari rumput.

Pada gapura sederhana berwarna biru, di ujung gerbang pelabuhan, terdapat tulisan “Pariri Lema Bariri” . Ternyata setelah aku tanyakan  kepada Sukri, kawan dari Taliwang, kalimat itu kurang lebih berarti berusaha untuk menjadi lebih baik.  Aku menunggu bis yang menuju terminal Taliwang.

“Taliwang-taliwang!” Segera aku berlari menuju bis kecil yang penuh sesak dengan penumpang. Kebanyakan para perempuan tua yang membawa barang-barang untuk dijual di pasar. Bis terguncang-guncang. Ah….infrastruktur di luar Jawa dan Bali memang menyedihkan. Kemana uang APBN yang katanya untuk belanja modal itu perginya? Apakah pernah orang nomor satu pada republik ini “jalan-jalan” ke daerah ini untuk melihat kehidupan rakyatnya secara langsung?

Bis sudah sampai di terminal Taliwang. Sekali lagi, aku terheran-heran. Terminal Taliwang yang katanya terminal ibu kota kabupaten Sumbawa Barat, ternyata sangat sederhana, berukuran kecil dan belum diaspal. Para tukang ojek segera menyerbu  bis yang berhenti.

Udara dingin Taliwang semakin menggigit tubuh, saat ojek bergerak. Kami minta diturunkan ke sebuah hotel di tengah kota kabupaten. Setelah semua siap, kami langsung menuju tempat tugas – Dinas Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumbawa Barat. Misi kami adalah melakukan bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan penatausahaan hasil hutan kepada dinas kabupaten dan sebuah perusahaan.

Dari dialog inilah tersingkap “Gerakan Sejuta Pohon” kabupaten Sumbawa Barat. Ide besar dari kabupaten kecil yang baru lahir. “Disini ada gerakan sejuta pohon. Jadi, setiap orang diwajibkan menanam 10 pohon, terserah di areal mana. Lalu mereka akan mendapatkan sertifikat GSP. Sertifikat ini digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan gratis. Juga KK, KTP dan akte kelahiran gratis dan untuk mendapatkan asuransi jiwa,” terang Ir. Muslimin HMY, Kabid Kehutanan KSB.

Inilah perbedaan mendasar gerakan sejuta pohon di Kabupaten Sumbawa Barat  dengan gerakan serupa di tempat lain. Yaitu adanya sertifikasi kegiatan yang menjadi prasyarat kegiatan lainnya, sehinggga gerakan sejuta pohon memiliki prosentase keberhasilan lebih tinggi, karena pemerintah daerah bisa “memaksa” masyarakat untuk menanam pohon.

Untuk membuktikan bahwa  kabupaten Sumbawa Barat yang mempelopori “sertifikasi” gerakan sejuta pohon ku-enter search engine google . Hasilnya positif, benar. Ini berarti pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat memang serius mendukung keberhasilan program tersebut. Rasanya dalam pembangunan kehutanan, daerah lain memang harus mencontoh terobosan kabupaten Sumbawa Barat. 

KONSEP GERAKAN SEJUTA POHON KSB

Terobosan pembangunan kehutanan yang dibuat oleh kabupaten Sumbawa Barat melalui sertifikasi gerakan sejuta pohon bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan dan lahan dengan mengedepankan partisipasi masyarakat sehingga tercipta kawasan yang potensial untuk pengembangan agrobisnis dan agroindustri sebagai pengubah struktur ekonomi masyarakat/petani.

Adapun tujuan khususnya adalah mendukung kegiatan pendidikan gratis, program wajib belajar 12 tahun, mendukung program pelayanan kesehatan/pengobatan gratis, mendukung program pembuatan kartu keluarga, kartu tanda penduduk (KTP) dan akte kelahiran gratis, mendukung program asuransi jiwa bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat, menanam kembali setiap jengkal lahan dan meningkatkan pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan agroforestry, sebagai salah satu langkah mengantisipasi dan mengurangi aktivitas illegal logging, menyiapkan bahan baku industri/agroindustri yang bernilai tinggi, memberdayakan masyarakat dalam memperbaiki lingkungan dan menyiapkan warisan bagi anak cucu di masa mendatang, dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat/petani dan keluarganya.

Sesuai dengan namanya, kegiatan ini direncanakan menanam sejuta pohon yang melibatkan seluruh penduduk kabupaten Sumbawa Barat, dimana setiap jiwa diwajibkan untuk menanam 10 pohon, dan setiap kepala keluarga bertanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarganya. Angka 10 pohon per jiwa didasari asumsi jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa Barat pada tahun 2006 sekitar 100.000 jiwa (jumlah penduduk 92.405 jiwa pada tahun 2004).

Lokasi penanaman yang ditunjuk untuk kegiatan ini terdiri dari lahan milik sendiri penduduk/masyarakat, baik berupa lahan pekarangan, tegalan maupun kebun, lahan hutan milik negara/pemerintah terutama yang berdekatan dengan lokasi permukiman penduduk agar memudahan pengawasan dan pememliharaan tanaman dan lahan lainnya yang disediakan atau ditetapkan oleh pemerintah kabupaten Sumbawa Barat sebagai lokasi bersama pada setiap desa.

Masyarakat boleh mengambil seluruh hasil tanaman, bila penanaman dan pemeliharaan di lahan milik sendiri.  Namun jika penanaman dan pemeliharaan di areal hutan milik negara/pemerintah atau lahan bersama, masyarakat hanya  dapat memanfaatkan/mengambil hasil tanaman berupa buah, sedangkan kayunya tetap dibiarkan tumbuh dan menjadi hak negara/pemerintah.

Secara teknis pelaksanaan  gerakan sejuta pohon adalah sebagai berikut:

1.) penyediaan areal dan lubang tanam oleh masyarakat pada lokasi yang akan ditanam, 2.) pengambilan bibit tanaman pada lokasi penyediaan bibit yang telah ditetapkan oleh pemerintah desa,

3.) jumlah bibit yang diambil sebanyak 10 bibit untuk setiap anggota rumah tangga dan pengambilan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan waktu tanam,

4.) penanaman bibit pada lokasi atau lubang tanam yang telah disiapkan,

5.) melaporkan penanaman bibit kepada kepala desa,

6.)pemberian sertifikat GSP untuk setiap anggota rumah tangga,

7.) sertifikat sebagaimana dimaksud dapat digunakan untuk memperoleh pelayanan pendidikan gratis, pengobatan gratis, pengurusan KK, KTP dan akte kelahiran gratis/asuransi jiwa.

Lalu untuk pemeliharaan tanaman, pemerintah KSB menekankan partisipasi aktif semua pihak, terutama masyarakat penanam pohon, sehingga pohon yang ditanam dapat bertahan hidup. Oleh karena itu kades selaku ketua pelaksana program di tingkat desa harus lebih koopeatif dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan, secara berkala setiap 3 bulan dilakukan evaluasi terhadap semua kegiatan mulai penyiapan bibit pada semua lokasi yang telah ditetapkan, keadaan bibit dan ketersediaannya sesuai dengan tingkat kebutuhan realisasi penyaluran sampai realisasi penanaman.

Laporan realisasi fisik bulanan dilakukan oleh kelembagaan GSP tingkat desa disampaikan kepada kelembagaan GSp tingkat kecamatan.  Laporan bulanan yang diterima oleh kelembagaan GSP tingkat kecamatan digabungkan dengan laporan dari KCD kehutanan, pertanian, perkebunanan dan ketahanan pangan, KSPH, KCD Dikpora dan Kapolsek disampaikan kepada kelembagaan GSP tingkat kabupaten. Laporan realisasi fisik dan administrasi triwulan dilakukan oleh kelembagaan GSP tingkat kabupaten disampaikan kepada Kepala Dishupptan selaku penanggung jawab GSP. Sedangkan laporan tahunan, yang merupakan laporan akhir dari kegiatan dibuat dan dilaporkan oleh Kadishupptan kepada Bupati Sumbawa Barat.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Belantara Edisi I Tahun 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s